Incinerator Limbah

Apa Itu Incinerator?

Apa Itu Incinerator? Panduan Lengkap Teknologi Pembakaran Limbah Modern

Incinerator adalah teknologi pembakaran limbah pada suhu tinggi untuk mengurangi volume sampah dan limbah B3. Pelajari jenis, cara kerja, keunggulan, dan aplikasi incinerator di Indonesia.

Pengertian Incinerator

Incinerator merupakan sistem pembakaran limbah yang menggunakan suhu tinggi untuk mengubah sampah padat, cair, atau gas menjadi abu, gas buang, dan panas. Lebih lanjut, teknologi ini dirancang khusus untuk mengelola berbagai jenis limbah dengan aman dan efisien. Dengan demikian, incinerator menjadi solusi penting dalam pengelolaan limbah modern, terutama untuk limbah yang sulit didaur ulang atau berbahaya bagi lingkungan.

Selanjutnya, proses insinerasi (incineration) bekerja pada suhu antara 850°C hingga 1.200°C, bahkan dapat mencapai 2.000°C untuk limbah tertentu. Akibatnya, hampir semua komponen organik dalam limbah terbakar sempurna dan terurai. Dengan begitu, volume limbah dapat berkurang hingga 90%, sedangkan massa limbah berkurang hingga 70-80%.

Sejarah dan Perkembangan Incinerator

Pertama-tama, incinerator pertama kali digunakan secara komersial di Inggris pada tahun 1874. Kemudian, teknologi ini berkembang pesat di negara-negara industri seperti Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negegara Eropa. Saat ini, incinerator modern dilengkapi dengan sistem kontrol emisi canggih yang menjadikannya lebih ramah lingkungan dibandingkan generasi awal.

Di Indonesia, penggunaan incinerator mulai populer sejak tahun 1990-an, terutama di rumah sakit untuk mengelola limbah medis. Selanjutnya, industri dan pemerintah daerah mulai mengadopsi teknologi ini untuk mengatasi masalah sampah perkotaan dan limbah B3.

Prinsip Kerja Incinerator

Sekarang, mari kita pahami bagaimana incinerator bekerja mengolah limbah menjadi output yang lebih aman. Proses insinerasi melibatkan beberapa tahap yang saling terkait:

1. Tahap Pengeringan (Drying)

Pertama, limbah yang masuk ke ruang bakar akan dipanaskan pada suhu 100-200°C. Selama proses ini, kandungan air dalam limbah menguap. Dengan demikian, limbah menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Tahap ini sangat penting karena kadar air yang tinggi dapat menurunkan efisiensi pembakaran.

2. Tahap Pirolisis (Pyrolysis)

Selanjutnya, setelah limbah kering, suhu dinaikkan menjadi 250-700°C. Pada tahap ini, komponen organik dalam limbah mulai terurai tanpa adanya oksigen yang cukup. Akibatnya, terbentuk gas-gas mudah terbakar seperti karbon monoksida (CO), hidrogen (H₂), dan hidrokarbon volatil. Proses ini juga menghasilkan char (arang) sebagai residu padat.

3. Tahap Pembakaran (Combustion)

Kemudian, gas-gas hasil pirolisis dan char dibakar sempurna pada suhu 850-1.200°C dengan pasokan oksigen yang cukup. Pada suhu ini, hampir semua senyawa organik teroksidasi menjadi karbon dioksida (CO₂) dan uap air (H₂O). Selain itu, panas yang dihasilkan dari pembakaran dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi. Dengan begitu, incinerator tidak hanya mengelola limbah tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi.

4. Tahap Pembakaran Sekunder (Secondary Combustion)

Selanjutnya, gas hasil pembakaran primer dialirkan ke ruang pembakaran sekunder. Di sini, gas dibakar kembali pada suhu yang lebih tinggi (biasanya > 1.000°C) selama minimal 2 detik. Tujuannya adalah memastikan destruksi sempurna terhadap senyawa organik berbahaya seperti dioksin dan furan. Dengan demikian, emisi gas yang keluar menjadi lebih aman.

5. Tahap Pendinginan dan Pembersihan Gas (Gas Cleaning)

Setelah itu, gas panas hasil pembakaran harus didinginkan dan dibersihkan sebelum dilepas ke atmosfer. Proses ini melibatkan beberapa sistem:

a. Sistem Pendinginan

Pertama, gas panas dialirkan melalui heat exchanger atau boiler untuk menurunkan suhu. Selain itu, panas yang diambil dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan steam atau listrik.

b. Sistem Pembersih Partikulat

Kemudian, partikel padat seperti fly ash disaring menggunakan:

  • Cyclone separator: Memisahkan partikel besar dengan gaya sentrifugal
  • Fabric filter (baghouse): Menyaring partikel halus dengan kain filter khusus
  • Electrostatic precipitator: Menggunakan medan listrik untuk menjebak partikel

c. Sistem Pembersih Gas Asam

Selanjutnya, gas asam seperti HCl, SO₂, dan NOx dinetralisir menggunakan:

  • Dry scrubbing: Injeksi lime (kapur) untuk menetralisir gas asam
  • Wet scrubbing: Pencucian gas dengan larutan alkaline
  • Selective Catalytic Reduction (SCR): Reduksi NOx menggunakan katalis dan ammonia

d. Sistem Penghilang Logam Berat

Kemudian, logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium dihilangkan menggunakan karbon aktif atau sistem adsorpsi khusus.

6. Tahap Pembuangan Abu (Ash Disposal)

Terakhir, abu hasil pembakaran (bottom ash dan fly ash) dikumpulkan dan diolah lebih lanjut. Bottom ash (abu dasar) dapat dimanfaatkan sebagai material konstruksi setelah melalui uji kelayakan. Sementara itu, fly ash (abu terbang) yang mengandung logam berat harus diolah sebagai limbah B3 sebelum dibuang ke secure landfill.

Jenis-Jenis Incinerator

Berdasarkan desain dan aplikasinya, incinerator dibagi dalam beberapa kategori. Berikut ini penjelasan lengkap tentang berbagai jenis incinerator:

1. Berdasarkan Jenis Limbah

a. Municipal Solid Waste Incinerator (MSW Incinerator)

Pertama, incinerator ini dirancang khusus untuk membakar sampah perkotaan campuran. Biasanya, MSW incinerator memiliki kapasitas besar (puluhan hingga ratusan ton per hari). Selain itu, jenis ini sering dilengkapi dengan sistem waste-to-energy untuk menghasilkan listrik. Dengan demikian, kota-kota besar dapat mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.

b. Medical Waste Incinerator

Selanjutnya, incinerator medis dirancang khusus untuk limbah rumah sakit seperti jarum suntik, perban bekas, organ tubuh, dan limbah infeksius lainnya. Jenis ini harus mampu mencapai suhu sangat tinggi (> 1.100°C) untuk memastikan destruksi sempurna patogen dan bahan organik berbahaya. Lebih lanjut, incinerator medis biasanya memiliki ruang pembakaran ganda untuk memastikan pembakaran sempurna.

c. Hazardous Waste Incinerator

Kemudian, incinerator limbah B3 didesain untuk membakar limbah berbahaya seperti bahan kimia beracun, pelarut organik, pestisida, dan limbah industri berbahaya lainnya. Teknologi ini menggunakan suhu sangat tinggi (1.200-2.000°C) dan waktu tinggal yang lama untuk memastikan destruksi senyawa berbahaya. Selain itu, sistem pengendalian emisi harus sangat ketat untuk mencegah pelepasan dioksin, furan, dan logam berat.

d. Sewage Sludge Incinerator

Selanjutnya, incinerator lumpur limbah digunakan untuk membakar sludge dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Dengan demikian, volume lumpur berkurang drastis dan risiko pencemaran lingkungan diminimalkan. Lebih jauh, abu hasil pembakaran dapat mengandung fosfor yang dapat direcovery sebagai pupuk.

2. Berdasarkan Desain Ruang Bakar

a. Multiple Hearth Incinerator

Pertama, jenis ini memiliki beberapa tingkat (hearth) dalam satu ruang bakar vertikal. Limbah bergerak dari tingkat atas ke bawah secara bertahap sambil dibakar. Keuntungannya adalah kontrol pembakaran yang lebih baik dan efisiensi tinggi. Namun demikian, biaya investasi dan maintenance cukup tinggi.

b. Rotary Kiln Incinerator

Selanjutnya, rotary kiln adalah silinder horizontal yang berputar perlahan. Limbah diumpankan dari satu ujung dan bergerak ke ujung lainnya sambil dibakar. Rotasi silinder membantu pencampuran limbah dengan udara dan memastikan pembakaran merata. Jenis ini sangat efektif untuk limbah padat, lumpur, dan bahkan drum limbah B3. Oleh karena itu, rotary kiln populer digunakan untuk limbah industri berbahaya.

c. Fluidized Bed Incinerator

Kemudian, incinerator fluidized bed menggunakan lapisan pasir atau material inert yang di-fluidize (dikipaskan) oleh udara bertekanan. Limbah dibakar di dalam bed yang terus bergerak ini. Keunggulannya adalah pembakaran sangat efisien, suhu merata, dan dapat membakar limbah dengan kadar air tinggi. Selain itu, emisi polutan lebih rendah dibanding jenis lain.

d. Fixed Grate Incinerator

Selanjutnya, fixed grate memiliki grate (kisi-kisi) stasioner tempat limbah dibakar. Udara pembakaran disuplai dari bawah melalui grate. Jenis ini sederhana dan murah, cocok untuk kapasitas kecil hingga menengah. Namun, efisiensi pembakaran lebih rendah dibanding jenis lain.

e. Moving Grate Incinerator

Kemudian, moving grate memiliki kisi-kisi yang bergerak untuk mengaduk dan memindahkan limbah selama pembakaran. Gerakan grate memastikan limbah terbakar merata dan abu terdorong keluar secara otomatis. Dengan demikian, efisiensi pembakaran lebih tinggi dan operasi lebih otomatis. Jenis ini banyak di gunakan di MSW incinerator skala besar.

3. Berdasarkan Kapasitas

a. Incinerator Skala Kecil (< 1 ton/hari)

Pertama, incinerator skala kecil cocok untuk klinik, puskesmas, laboratorium, atau industri kecil. Harganya relatif terjangkau (Rp 200 juta – Rp 2 miliar). Namun demikian, sistem pengendalian emisi biasanya lebih sederhana.

b. Incinerator Skala Menengah (1-20 ton/hari)

Selanjutnya, skala menengah di gunakan oleh rumah sakit besar, pabrik menengah, atau TPA regional. Investasi berkisar Rp 2-20 miliar. Biasanya, sudah di lengkapi sistem pengendalian emisi yang memadai.

c. Incinerator Skala Besar (> 20 ton/hari)

Kemudian, skala besar untuk pengolahan sampah kota atau limbah industri dalam volume besar. Investasi dapat mencapai ratusan miliar rupiah. Namun, dapat menghasilkan energi listrik yang signifikan (waste-to-energy plant).

Komponen Utama Incinerator

Untuk memahami incinerator secara menyeluruh, mari kita pelajari komponen-komponen pentingnya:

1. Sistem Feeding (Pemasukan Limbah)

Pertama, sistem ini berfungsi memasukkan limbah ke ruang bakar secara terkontrol. Jenisnya meliputi:

  • Ram feeder: Pendorong hidrolik untuk limbah padat
  • Screw conveyor: Ulir berputar untuk limbah berbentuk sludge
  • Liquid injection: Nozzle untuk limbah cair
  • Manual loading: Pemuatan manual untuk kapasitas kecil

Sistem feeding yang baik memastikan laju pembakaran stabil dan efisiensi optimal.

2. Primary Combustion Chamber (Ruang Bakar Primer)

Selanjutnya, ini adalah ruang utama tempat limbah di bakar. Ruang ini dilapisi bata tahan api (refractory) yang mampu bertahan pada suhu tinggi. Selain itu, di lengkapi dengan burner untuk memulai dan menjaga suhu pembakaran. Desain ruang bakar sangat mempengaruhi efisiensi dan kualitas pembakaran.

3. Secondary Combustion Chamber (Ruang Bakar Sekunder)

Kemudian, gas hasil pembakaran primer di alirkan ke ruang ini untuk pembakaran sempurna. Suhu dijaga di atas 1.000°C selama minimal 2 detik. Dengan begitu, destruksi senyawa organik berbahaya mencapai > 99,99% (four-nine destruction efficiency).

4. Burner System (Sistem Pembakar)

Selanjutnya, burner menyediakan panas awal dan menjaga suhu pembakaran. Bahan bakar yang di gunakan dapat berupa:

  • Diesel/solar: Paling umum di gunakan
  • Gas alam: Lebih bersih dan efisien
  • LPG: Alternatif untuk lokasi tanpa gas alam
  • Biomass: Untuk aplikasi tertentu

Sistem kontrol burner modern menggunakan PLC untuk mengatur suhu secara otomatis.

5. Air Supply System (Sistem Pasokan Udara)

Kemudian, udara pembakaran di suplai oleh blower atau fan dengan kapasitas sesuai kebutuhan. Pasokan udara harus tepat: terlalu sedikit menyebabkan pembakaran tidak sempurna, terlalu banyak menurunkan suhu pembakaran. Oleh karena itu, rasio udara-bahan bakar (air-fuel ratio) harus di kontrol dengan cermat.

6. Heat Recovery System (Sistem Pemulihan Panas)

Selanjutnya, panas dari gas buang dapat di manfaatkan melalui:

  • Boiler: Menghasilkan steam untuk proses industri atau pembangkit listrik
  • Heat exchanger: Memanaskan air untuk kebutuhan lain
  • Dryer: Mengeringkan limbah sebelum dibakar

Dengan demikian, efisiensi energi keseluruhan meningkat dan biaya operasional berkurang.

7. Air Pollution Control Device (APCD)

Kemudian, sistem pengendalian emisi mencakup:

a. Cyclone

Pertama, memisahkan partikel besar (> 10 μm) dengan gaya sentrifugal. Efisiensi sekitar 70-90% untuk partikel kasar.

b. Baghouse Filter

Selanjutnya, kain filter menangkap partikel halus (> 1 μm). Efisiensi dapat mencapai > 99% untuk partikulat.

c. Scrubber

Kemudian, scrubber basah atau kering menetralisir gas asam. Efisiensi removal gas asam mencapai 90-99%.

d. SCR (Selective Catalytic Reduction)

Selanjutnya, katalis dan ammonia mereduksi NOx menjadi N₂ dan H₂O. Efisiensi hingga 90% untuk NOx.

e. Activated Carbon Filter

Terakhir, karbon aktif mengadsorpsi logam berat, dioksin, dan furan. Dengan begitu, emisi memenuhi standar baku mutu.

8. Ash Handling System (Sistem Penanganan Abu)

Selanjutnya, sistem ini mengumpulkan dan mengangkut abu keluar dari incinerator. Bottom ash di kumpulkan di bawah ruang bakar, sedangkan fly ash di tangkap oleh APCD. Sistem modern menggunakan conveyor otomatis untuk mengurangi paparan pekerja terhadap abu.

9. Control Panel dan Monitoring System

Terakhir, panel kontrol modern menggunakan:

  • PLC (Programmable Logic Controller): Mengatur seluruh proses otomatis
  • SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition): Monitoring real-time
  • CEMS (Continuous Emission Monitoring System): Monitoring emisi cerobong 24/7
  • Safety interlock: Sistem keselamatan otomatis

Dengan demikian, operasi incinerator menjadi lebih aman, efisien, dan terpantau.

Keunggulan Incinerator

Sekarang, mari kita eksplorasi keunggulan teknologi incinerator di banding metode pengelolaan limbah lainnya:

1. Reduksi Volume Signifikan

Pertama dan terpenting, insinerasi mengurangi volume limbah hingga 90%. Ini berarti 10 ton limbah menjadi hanya 1 ton abu. Akibatnya, kebutuhan lahan landfill berkurang drastis. Dengan begitu, incinerator menjadi solusi ideal untuk daerah dengan keterbatasan lahan seperti kota-kota besar dan pulau-pulau kecil.

2. Destruksi Patogen dan Senyawa Berbahaya

Selanjutnya, suhu tinggi (> 850°C) membunuh semua mikroorganisme patogen (bakteri, virus, prion). Lebih jauh, senyawa organik berbahaya seperti pestisida, PCB, dan farmasi terurai sempurna. Oleh karena itu, incinerator sangat efektif untuk limbah medis dan limbah B3.

3. Pengurangan Risiko Lingkungan

Kemudian, insinerasi menghilangkan risiko pencemaran air tanah dari leachate landfill. Selain itu, tidak ada masalah bau, vektor penyakit (lalat, tikus), atau gas metana yang sering terjadi di TPA. Dengan demikian, dampak lingkungan lebih terkontrol di banding landfilling.

4. Energy Recovery (Pemulihan Energi)

Selanjutnya, panas hasil pembakaran dapat di konversi menjadi listrik atau steam. Limbah yang sebelumnya menjadi masalah kini menjadi sumber energi. Dengan begitu, incinerator berkontribusi pada energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada fosil fuel.

5. Tidak Memerlukan Lahan Luas

Kemudian, footprint incinerator jauh lebih kecil dibanding landfill. Sebuah incinerator dapat di tempatkan di area perkotaan tanpa mengganggu lingkungan. Sebaliknya, landfill membutuhkan area sangat luas dan harus jauh dari pemukiman.

6. Pengelolaan Cepat

Selanjutnya, proses insinerasi hanya membutuhkan beberapa jam, berbeda dengan decomposisi di landfill yang memakan waktu puluhan tahun. Dengan demikian, limbah tidak menumpuk dan risiko pencemaran di minimalkan.

7. Fleksibilitas Jenis Limbah

Kemudian, incinerator modern dapat membakar berbagai jenis limbah (padat, cair, sludge) dalam satu sistem. Bahkan, limbah dengan kadar air tinggi dapat di olah dengan pre-treatment atau incinerator jenis fluidized bed.

8. Compliance dengan Regulasi

Terakhir, insinerasi membantu industri memenuhi kewajiban regulasi pengelolaan limbah B3. Dengan sistem APCD yang memadai, emisi dapat di jaga di bawah baku mutu. Akibatnya, risiko sanksi hukum berkurang.

Kekurangan dan Tantangan Incinerator

Meskipun memiliki banyak keunggulan, namun demikian incinerator juga memiliki beberapa keterbatasan:

1. Investasi Awal Tinggi

Pertama, biaya pembangunan incinerator sangat besar, terutama untuk skala besar dengan sistem waste-to-energy. Investasi dapat mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Akibatnya, tidak semua daerah atau industri mampu membangun fasilitas ini.

2. Biaya Operasional Tinggi

Selanjutnya, operasi incinerator memerlukan:

  • Bahan bakar (diesel/gas) untuk burner
  • Listrik untuk blower, conveyor, dan sistem kontrol
  • Bahan kimia untuk APCD (lime, activated carbon, ammonia)
  • Maintenance rutin dan spare parts
  • Tenaga operator terlatih

Namun dengan demikian, biaya operasional per ton limbah cukup tinggi (Rp 500.000 – Rp 2.000.000/ton).

3. Potensi Emisi Berbahaya

Kemudian, jika sistem APCD tidak berfungsi optimal, maka incinerator dapat melepaskan polutan berbahaya seperti:

  • Dioksin dan furan (karsinogen kuat)
  • Logam berat (Hg, Pb, Cd)
  • Gas asam (HCl, SOx, NOx)
  • Partikulat halus (PM2.5, PM10)

Oleh karena itu, monitoring emisi dan maintenance APCD harus di lakukan secara ketat.

4. Residu Abu Berbahaya

Selanjutnya, fly ash dari pembakaran limbah B3 mengandung logam berat terkonsentrasi. Abu ini harus di olah sebagai limbah B3 sebelum disposal. Namun dengan demikian, masalah limbah tidak sepenuhnya hilang, hanya berubah bentuk.

5. Penolakan Masyarakat (NIMBY Syndrome)

Kemudian, masyarakat sering menolak pembangunan incinerator di dekat pemukiman mereka karena khawatir terhadap polusi udara dan kesehatan (Not In My Backyard syndrome). Oleh karena itu, sosialisasi dan transparansi operasi sangat penting.

6. Tidak Semua Limbah Cocok Di Bakar

Selanjutnya, limbah dengan karakteristik tertentu tidak cocok untuk insinerasi:

  • Limbah dengan kadar air sangat tinggi (> 70%) tidak efisien di bakar
  • Limbah mengandung PVC tinggi menghasilkan HCl berlebihan
  • Limbah dengan nilai kalor sangat rendah membutuhkan bahan bakar tambahan banyak
  • Limbah radioaktif tidak boleh di bakar

Namun dengan demikian, pre-sorting dan karakterisasi limbah penting di lakukan.

7. Kehilangan Material yang Dapat Di Daur Ulang

Terakhir, insinerasi menghancurkan material yang sebenarnya masih bisa di daur ulang seperti plastik, kertas, dan logam. Oleh karena itu, pendekatan circular economy mendorong pengurangan dan daur ulang sebelum insinerasi sebagai opsi terakhir.

Standar Emisi Incinerator di Indonesia

Berdasarkan regulasi Indonesia, emisi incinerator harus memenuhi baku mutu yang di tetapkan. Berikut standar yang berlaku:

Baku Mutu Emisi Gas Buang Incinerator

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Limbah Medis dan Limbah B3:

Parameter Satuan Baku Mutu (mg/Nm³)
Partikulat (TSP) mg/Nm³ 50 – 100
HCl (Asam Klorida) mg/Nm³ 50 – 100
SO₂ (Sulfur Dioksida) mg/Nm³ 200 – 300
NOx (Nitrogen Oksida) mg/Nm³ 400 – 500
CO (Karbon Monoksida) mg/Nm³ 100 – 200
Opacity (Kekeruhan) % 20 – 30
Hg (Merkuri) mg/Nm³ 0,2
Cd (Kadmium) mg/Nm³ 0,2
Pb (Timbal) mg/Nm³ 5
Dioksin/Furan ng-TEQ/Nm³ 0,1 – 0,5

Catatan: Nilai baku mutu dapat bervariasi tergantung jenis dan skala incinerator. Standar untuk MSW incinerator dan hazardous waste incinerator berbeda.

Persyaratan Monitoring Emisi

Pertama, setiap incinerator wajib di lengkapi dengan CEMS (Continuous Emission Monitoring System) yang memantau:

  • Suhu cerobong
  • Kadar oksigen (O₂)
  • Karbon monoksida (CO)
  • Partikulat

Selanjutnya, pengujian emisi lengkap (termasuk dioksin/furan dan logam berat) harus di lakukan minimal setiap 6 bulan oleh laboratorium terakreditasi.

Kemudian, data monitoring harus di laporkan ke KemenLHK melalui sistem SPARING (Sistem Pemantauan Kualitas Lingkungan).

Aplikasi Incinerator di Berbagai Sektor

Sekarang, mari kita lihat bagaimana incinerator di terapkan di berbagai sektor:

1. Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan

Pertama, setiap rumah sakit dengan kapasitas > 50 tempat tidur wajib memiliki incinerator untuk limbah medis. Limbah yang di bakar meliputi:

  • Jarum suntik dan alat tajam bekas
  • Perban dan kasa terkontaminasi
  • Kantong darah bekas
  • Organ dan jaringan tubuh (patologis)
  • APD (masker, sarung tangan) bekas
  • Limbah sitotoksik dari kemoterapi

Namun dengan begitu, risiko penyebaran infeksi dan pencemaran lingkungan dapat di cegah.

2. Industri Manufaktur

Selanjutnya, berbagai industri menggunakan incinerator untuk mengelola limbah B3 mereka:

  • Industri Kimia: Reaktan kadaluarsa, produk gagal, kemasan terkontaminasi
  • Industri Tekstil: Limbah pewarna, pelarut organik bekas
  • Industri Elektronik: Komponen PCB, kabel terkontaminasi, limbah kimia produksi
  • Industri Farmasi: Obat kadaluarsa, limbah produksi, kultur mikroba
  • Industri Cat: Sludge cat, pelarut bekas, kemasan terkontaminasi

Namun dengan demikian, industri dapat memenuhi kewajiban pengelolaan limbah B3 secara bertanggung jawab.

3. Pengelolaan Sampah Kota (Waste-to-Energy)

Kemudian, beberapa kota besar di Indonesia mulai membangun WtE plant yang di lengkapi incinerator skala besar. Contohnya:

  • TPST Bantargebang, Bekasi
  • PLTU Sampah Surabaya

Dengan begitu, sampah perkotaan tidak hanya di olah tetapi juga menghasilkan listrik untuk kebutuhan publik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *